← Back to blog

// Blog

2.21

34 min read
mistericerpenpsikologidrama
2.21

Jangan percaya siapapun

Pada pukul 2.21, Koma Coffee selalu terasa seperti tempat yang lupa bagaimana caranya tidur.

Mesin espresso sesekali mendesis dari balik meja bar, pendingin ruangan mengembuskan udara yang terlalu dingin, sementara lampu-lampu kuning di atas meja membuat kedai itu tampak lebih hangat daripada yang sebenarnya. Di luar kaca, jalanan hampir kosong. Hanya beberapa kendaraan melintas, meninggalkan pantulan cahaya yang bergerak cepat di lantai basah.

Raka sudah bekerja di sana hampir tiga tahun. Ia tahu bahwa setelah pukul dua dini hari, suara mesin penggiling kopi terdengar lebih keras daripada siang hari, bahwa kursi di pojok dekat jendela selalu sedikit miring ke kiri, dan bahwa pelanggan yang duduk sendirian setelah tengah malam biasanya tidak datang untuk minum kopi. Mereka datang untuk menghindari sesuatu.

Malam itu tinggal Raka dan Dimas yang belum pulang. Raka berdiri di belakang mesin espresso sambil mengelap gelas, sedangkan Dimas merapikan meja-meja yang sebenarnya sudah bersih sejak setengah jam lalu.

‘Lo nggak capek?’ tanya Raka.

Dimas mengangkat bahu. ‘Capek. Tapi kalau gue pulang sekarang, besok pagi gue harus bangun lebih cepat.’

‘Logika macam apa itu?’

‘Logika orang miskin.’

Raka tertawa. Dimas ikut tersenyum, tetapi senyumnya segera hilang ketika matanya jatuh pada ponsel Raka yang tergeletak di samping mesin kasir.

‘Masih dapat pesan aneh itu?’

Tangan Raka berhenti mengelap gelas.

‘Pesan apa?’

‘Yang dari nomor lo sendiri.’

Raka menatap Dimas. ‘Gue cuma pernah cerita sekali.’

‘Iya.’

‘Terus kenapa lo ingat?’

Dimas tidak langsung menjawab. Ia mengambil satu kursi, membaliknya, lalu meletakkannya di atas meja. ‘Karena aneh.’

‘Ya.. emang aneh si.’

‘Gue lebih suka bilang jangan disentuh.’

Raka terkekeh. ‘Kenapa? Takut?’

Dimas menatapnya beberapa detik sebelum mengalihkan pandangan. ‘Kalau sesuatu tahu apa yang bakal terjadi besok, gue nggak yakin dia selalu ngasih tahu karena mau nolong.’

Kalimat itu terdengar terlalu serius untuk percakapan pukul dua pagi. Raka sempat ingin menanyakannya lebih jauh, tetapi Dimas sudah berjalan ke meja berikutnya.

Pesan pertama datang setelah tiga malam dari percakapan tersebut.

Raka sudah berada di apartemen ketika ponselnya bergetar. Ia baru saja meletakkan kepala di bantal ketika cahaya layar menyala di atas meja.

02.21.

Satu pesan WhatsApp.

Pengirimnya membuat kantuknya lenyap seketika.

Raka.

Ia membuka pesan itu.

Besok pukul 10.15, jangan naik lift.

Raka mengernyit. Selama beberapa detik ia hanya menatap kalimat itu, seolah-olah dengan menatap lebih lama ia bisa menemukan penjelasan yang masuk akal di antara huruf-hurufnya.

Ia memeriksa nomor pengirim. Benar. Nomornya sendiri.

Ia membuka WhatsApp Web. Tidak ada perangkat asing. Ia memeriksa perangkat tertaut. Tidak ada yang mencurigakan. Ia bahkan mengubah kata sandi email dan mengaktifkan kembali verifikasi dua langkah yang selama ini ia abaikan.

Setelah itu, ia menelepon Dimas.

‘Dim, kalau WhatsApp gue disadap, biasanya kelihatan nggak?’

Suara Dimas terdengar berat karena mengantuk. ‘Jam dua pagi, Rak?’

‘Serius.’

Raka mematikan telepon dan mengirim tangkapan layar pesan tersebut.

Dimas tidak langsung menjawab.

Beberapa saat kemudian muncul satu pesan.

Jangan dibalas.

Raka mengetik, ‘Kenapa?’

Balasannya datang lebih cepat.

Kalau yang ngirim orang, dia cuma mau bikin lo panik. Kalau bukan orang, gue malah lebih nggak suka.

Raka menatap layar sambil tersenyum kecil. ‘Maksud lo?’

Abaikan aja.

Raka akhirnya menuruti saran itu. Ia meletakkan ponsel dan tidur dengan pikiran bahwa mungkin seseorang sedang mengerjainya.

Pukul 10.15 keesokan paginya, ia masih percaya begitu.

Raka sedang berada di lantai empat sebuah mall ketika hendak turun ke lantai dasar. Pintu lift terbuka di depannya. Beberapa orang keluar, dan ia hendak masuk ketika seorang perempuan berlari kecil dari ujung koridor.

‘Mas, tunggu!’

Raka menahan pintu dengan tangan.

Perempuan itu masuk sambil mengucapkan terima kasih, tetapi sebelum Raka ikut melangkah, ponselnya berdering. Pesan dari Dimas.

Jangan lupa stok susu. Tadi gue cek, tinggal dua kotak.

Raka menghela napas. Ia mundur sebentar untuk membalas.

Iya, cerewet.

Ketika ia mengangkat kepala, pintu lift sudah tertutup.

Raka menekan tombol.

Tidak bergerak.

Ia menekan lagi.

Masih tidak bergerak.

Akhirnya ia melihat jam tangannya. 10.13. Ia mengumpat pelan dan memilih menggunakan tangga darurat. Hanya tiga lantai, pikirnya.

Ia baru mencapai lantai lima ketika suara benturan keras mengguncang gedung.

Orang-orang berteriak dari bawah.

Lift yang baru saja hendak dinaikinya mengalami kerusakan dan berhenti mendadak di antara lantai empat dan tiga.

Tidak ada yang meninggal. Dua orang mengalami luka cukup serius dan harus dibawa ke rumah sakit.

Raka berdiri di tangga dengan satu tangan masih menggenggam pegangan besi. Napasnya menjadi pendek.

Ia mengeluarkan ponsel.

Pesan itu masih ada.

Besok pukul 10.15, jangan naik lift.

Baru saat itulah ia menyadari sesuatu yang membuat kulit tengkuknya meremang.

Pesan itu tidak datang untuk memperingatkannya tentang masa depan.

Pesan itu datang karena seseorang sudah tahu bahwa ia akan berada di depan lift pada pukul 10.15.

Pesan kedua datang sehari kemudian.

Besok pukul 19.00, jangan pergi ke Taman Kerang.

Pesan ketiga datang pada malam berikutnya.

Besok pukul 16.30, telepon Ibu.

Pesan keempat menyuruhnya menghindari Jalan Merpati. Pesan kelima memintanya membawa payung meskipun ramalan cuaca mengatakan hari itu cerah. Semua terjadi sebagaimana mestinya, selalu pada waktu yang telah disebutkan dalam pesan.

Tidak pernah lebih cepat. Tidak pernah lebih lambat.

Tepat satu hari setelah pesan diterima.

Pada awalnya Raka masih mencari penjelasan. Ia menganggap mungkin seseorang telah memasang kamera di sekitarnya. Mungkin ada perangkat lunak yang membaca lokasinya. Mungkin seseorang yang mengenalnya sedang memainkan permainan yang sangat panjang.

Tetapi semakin banyak pesan datang, semakin sulit teori-teori itu dipertahankan.

Tidak ada orang yang mungkin tahu bahwa ibunya akan mengalami sesak napas tepat pukul 16.47, kecuali seseorang yang telah melihat kejadian itu sebelumnya.

Raka mulai menyimpan semua pesan tersebut di sebuah catatan khusus. Ia memberi judul sederhana pada halaman pertama:

02.21

Dimas adalah satu-satunya orang yang tahu catatan itu ada.

Suatu malam, setelah kedai tutup, Raka memperlihatkan semuanya.

Dimas membaca pesan-pesan tersebut satu per satu. Wajahnya tidak menunjukkan keterkejutan sebesar yang Raka harapkan.

‘Lo percaya?’ tanya Raka.

Dimas mengembalikan ponsel itu. ‘Gue percaya pesannya benar.’

‘Bedanya?’, tanya Raka

‘Benar belum tentu berarti baik.’

Raka mengerutkan dahi.

Dimas menatapnya cukup lama. ‘Kalau ada seseorang yang bisa memberi tahu lo apa yang bakal terjadi besok, Rak, orang itu juga bisa menentukan apa yang lo lakukan hari ini.’

Raka terdiam.

Dimas mengambil gelas kosong dari meja dan membawanya ke wastafel.

Sebelum membalikkan badan, ia berkata pelan, ‘Jangan sampai lo hidup cuma berdasarkan apa yang dia bilang.’

Raka ingin menjawab, tetapi Dimas sudah menyalakan keran.

Sebulan kemudian, pesan itu berubah.

Pukul 02.21.

Besok, jangan percaya siapa pun.

Tidak ada lagi.

Raka membaca kalimat itu berulang kali. Untuk pertama kalinya, pesan yang datang dari masa depan tidak memberinya jalan keluar.

Justru sebaliknya.

Pesan itu membuat seluruh jalan terasa mencurigakan.

Ia mulai memperhatikan cara orang-orang memandangnya. Ia curiga ketika kasir minimarket terlalu lama menghitung uang kembalian. Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan ibunya ketika perempuan itu tiba-tiba bertanya apakah Raka baik-baik saja. Bahkan Dimas pun mulai terasa berbeda.

Mungkin karena Dimas terlalu sering bertanya.

Mungkin karena ia terlalu cepat memahami.

Atau mungkin karena pesan itu telah menanamkan benih yang tidak bisa lagi dicabut.

Sore itu, ketika mereka sedang membereskan kedai, Dimas bertanya, ‘Lo masih dapat pesan?’

Raka tidak langsung menjawab.

‘Masih.’

‘Apa pesannya?’

‘Katanya jangan percaya siapa pun.’

Tangan Dimas yang sedang menyusun cangkir berhenti.

Hanya sebentar.

‘Terus?’

‘Termasuk lo.’

Dimas tersenyum tipis. ‘Bagus.’

Raka menatapnya.

‘Bagus?’

‘Berarti akhirnya lo mulai mikir sendiri.’

Kalimat itu terdengar seperti jawaban seseorang yang sudah menunggu pertanyaan tersebut.

Raka ingin bertanya apa maksudnya, tetapi suara pelanggan dari depan kedai memotong percakapan mereka.

Malam itu, untuk pertama kalinya, Raka merasa bahwa Dimas tahu lebih banyak daripada yang ia katakan.

Keesokan paginya.

Tidak ada orang misterius. Tidak ada pengejaran. Tidak ada sesuatu yang dramatis.

Dimas sedang mengendarai motornya menuju Koma Coffee ketika sebuah mobil menerobos lampu kuning di persimpangan. Dimas mengerem, tetapi terlambat.

Satu detik.

Hanya satu detik yang salah.

Tubuhnya terlempar beberapa meter.

Ketika Raka tiba di rumah sakit, operasi sudah berlangsung.

Ia duduk sendirian di lorong, masih mengenakan pakaian kerja. Bau antiseptik menusuk hidungnya. Suara roda ranjang sesekali terdengar dari ujung koridor, disusul langkah kaki perawat yang terburu-buru.

Ponselnya menunjukkan pukul 02.21.

Pesan baru masuk.

Jangan masuk ke kamar Dimas.

Raka menatap pesan tersebut sampai matanya terasa panas.

Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa takut kepada masa depan.

Ia merasa marah.

Ia memasukkan ponsel ke saku dan tetap duduk di sana sampai dokter keluar.

Operasinya berhasil, tetapi Dimas belum sadar. Dokter mengatakan bahwa ia harus melewati masa kritis terlebih dahulu.

Raka mengangguk, lalu kembali duduk.

Baru setelah beberapa jam, ia memahami apa yang mungkin telah terjadi.

Kecelakaan Dimas tidak pernah muncul dalam pesan mana pun.

Bukan karena masa depan tidak tahu.

Melainkan karena masa depan yang diketahui pengirim pesan sudah berubah.

Pesan-pesan yang selama ini menyelamatkan Raka juga menggeser hidup orang-orang di sekitarnya. Raka tidak naik lift. Ia tidak pergi ke Kafe Aruna. Ia menghindari jalan tertentu. Ia menelepon ibunya pada waktu yang berbeda. Semua perubahan kecil itu seperti batu-batu kecil yang dilemparkan ke permukaan air.

Gelombangnya bergerak ke mana-mana.

Dan mungkin, pada akhirnya, salah satu gelombang itu mencapai Dimas.

Dimas sadar dua hari kemudian.

Ketika Raka membuka mata setelah tertidur di kursi rumah sakit, ia melihat sahabatnya sedang menatap langit-langit.

‘Lo masih hidup,’ kata Raka.

Dimas tersenyum lemah. ‘Sayangnya.’

Raka tertawa kecil, tetapi matanya terasa panas.

Beberapa saat mereka hanya diam.

Kemudian Dimas berkata, ‘Dia sudah menghubungi lo?’

Raka menatapnya.

‘Siapa?’

Dimas tidak menjawab.

Raka berdiri dari kursinya. ‘Lo tahu.’

Dimas menghela napas.

‘Ada satu versi lo yang pernah datang kepada gue.’

Raka merasa jantungnya berdetak lebih lambat.

‘Versi gue?’

‘Lebih tua.’, jawab Dimas

‘Berapa tua?’

‘Entahlah. Sepuluh tahun mungkin. Bisa lebih.’

Dimas memejamkan mata sejenak. ‘Dia datang setelah gue melihat catatan-catatan tentang pesan itu.’

Raka duduk kembali.

‘Kenapa dia cerita ke lo?’

‘Karena waktu itu gue satu-satunya orang yang nggak percaya sama dia.’

Raka terdiam.

Dimas melanjutkan, ‘Dia sudah mencoba berkali-kali. Setiap kali mengirim pesan, hari berikutnya berubah. Kadang lo selamat. Kadang gue mati. Kadang ibu lo mati. Kadang lo sendiri yang mati.’

‘Terus kenapa dia tetap mengirim?’

‘Karena dia yakin ada satu urutan kejadian yang bisa membuat semuanya berhenti.’

‘Urutan apa?’

Dimas menatapnya.

‘Dia nggak tahu.’

Jawaban itu membuat Raka diam.

‘Dia cuma punya catatan dari percobaan sebelumnya,’ lanjut Dimas. ‘Dia menjalani satu hari, melihat hasilnya, lalu pada pukul 02.21 mengirim satu pesan kepada lo yang hidup sehari sebelumnya. Setelah itu dia harus menerima kenyataan bahwa pesan itu mungkin mengubah semuanya.’

‘Jadi dia nggak benar-benar melihat masa depan.’

‘Enggak.’

Dimas tersenyum getir.

‘Dia cuma orang yang terus-menerus mencoba menebak masa depan berdasarkan kesalahan yang sudah dia lakukan.’

Malam itu Raka membuka semua catatan.

Ia menyusun pesan-pesan berdasarkan tanggal.

Kemudian ia menemukan sesuatu yang membuat dadanya sesak.

Pesan-pesan tersebut tidak pernah menyuruhnya melakukan sesuatu yang benar-benar baru.

Semuanya selalu berkaitan dengan tindakan yang pernah ia lakukan dalam salah satu versi hidupnya.

Jangan naik lift.

Jangan pergi ke Taman Kerang.

Telepon Ibu.

Jangan lewat Jalan Merpati.

Pesan-pesan itu bukan prediksi.

Mereka adalah koreksi.

Raka masa depan sedang mencoba memperbaiki sebuah hari dengan mengubah keputusan-keputusan kecil yang telah menghasilkan tragedi pada percobaan sebelumnya.

Dan Raka sekarang hanyalah versi terbaru dari eksperimen itu.

Kesadaran tersebut membuatnya merasa mual.

Ia membayangkan dirinya sendiri, bertahun-tahun dari sekarang, duduk sendirian di sebuah ruangan dan membaca catatan tentang kematian orang-orang yang ia cintai. Membayangkan wajah Dimas yang tidak pernah bangun. Membayangkan ibunya yang tidak pernah menjawab telepon. Membayangkan dirinya sendiri yang terus mengirim pesan kepada seorang Raka yang belum tahu apa-apa, berharap satu kalimat berikutnya akhirnya menjadi jawaban.

Untuk pertama kalinya, Raka tidak melihat Raka masa depan sebagai monster.

Ia melihat seorang lelaki yang terlalu lama hidup dengan rasa bersalah sampai satu-satunya cara yang ia kenal untuk mencintai orang lain adalah dengan mengendalikan hidup mereka.

Dan justru karena itulah Raka merasa lebih takut.

Musuh terbesarnya bukan seseorang yang membencinya.

Musuh terbesarnya adalah seseorang yang terlalu mengenalnya.

Seseorang yang tahu apa yang akan ia lakukan ketika takut.

Apa yang akan ia lakukan ketika kehilangan.

Apa yang akan ia lakukan ketika diberi kesempatan untuk menyelamatkan orang yang dicintainya.

Seseorang yang tahu bahwa Raka akan selalu memilih jalan yang dianggap paling aman.

Malam berikutnya, pukul 02.21, pesan baru datang.

Besok pukul 22.00, datang ke stasiun lama. Sendirian.

Raka membaca pesan tersebut.

Kemudian meletakkan ponselnya.

Ia tidak pergi.

Untuk pertama kalinya, ia memilih sesuatu yang tidak diperintahkan oleh pesan.

Ia pergi ke Koma Coffee.

Kedai itu kosong. Lampu-lampunya mati, kecuali satu lampu kecil di atas meja bar. Dimas sudah berada di sana.

‘Lo yakin?’ tanya Dimas.

‘Enggak.’

‘Bagus.’

Mereka duduk dalam diam.

Pukul 02.21 tinggal beberapa menit.

Raka membuka catatannya. Di halaman terakhir ia menulis enam aturan yang sekarang ia yakini benar: pesan hanya bisa dikirim pada pukul 02.21, pesan selalu bergerak tepat dua puluh empat jam ke belakang, hanya informasi yang bisa melewati batas waktu, pengirim tidak dapat mengetahui masa depan setelah pesannya dikirim, setiap perubahan menciptakan hasil baru, dan penerima tidak pernah bisa membalas.

Aturan terakhir membuat Raka tersenyum pahit.

Selama ini ia mengira itu kelemahan.

Sekarang ia menyadari bahwa justru di situlah kebebasannya.

Raka masa depan bisa mengirim apa saja.

Tetapi ia tidak pernah bisa memaksa Raka untuk percaya.

Pukul 02.21.

Ponsel Raka bergetar.

Ia membuka pesan.

Dimas akan mati kalau kamu tetap bersamanya.

Dimas melihat wajah Raka.

‘Apa?’

Raka menunjukkan layar.

Dimas membacanya, lalu menghela napas panjang.

‘Dia tahu kelemahan lo.’

Raka mengangguk.

‘Dia tahu gue takut kehilangan lo.’

‘Terus?’

Raka mematikan layar.

‘Justru karena itu.’

Dimas menatapnya.

Raka mengambil buku catatan dan membuka halaman terakhir. Di sana, di bawah enam aturan yang ia tulis, ia menambahkan satu kalimat baru.

Jika semua keputusan yang pernah dibuat sudah diketahui, maka satu-satunya cara keluar adalah membuat keputusan yang belum pernah terjadi.

Dimas membaca kalimat itu.

‘Lo mau ngapain?’

Raka tersenyum.

‘Entahlah.’

Mereka tetap duduk sampai pagi.

Tidak ada yang mati.

Tidak ada yang datang.

Tidak ada kejadian besar.

Hanya suara mesin pendingin dan cahaya matahari pertama yang perlahan masuk melalui kaca kedai.

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, Raka bangun tanpa mengetahui apa yang akan terjadi.

Dan ia menyadari bahwa ketidaktahuan ternyata bukan sesuatu yang harus ditakuti.

Kadang-kadang, ketidaktahuan adalah satu-satunya bentuk kebebasan yang tersisa.

Hari-hari berikutnya berjalan biasa.

Raka kembali bekerja. Dimas perlahan pulih. Ibunya tetap menelepon pada malam-malam tertentu. Tidak ada kecelakaan besar. Tidak ada pesan yang datang untuk memperingatkannya tentang kematian seseorang.

Kemudian, pada suatu malam, ketika Raka sedang membersihkan mesin espresso setelah kedai tutup, ponselnya bergetar.

02.21.

Ia berhenti.

Sudah tiga minggu sejak pesan terakhir.

Dengan jantung berdebar, Raka membuka layar.

Tidak ada pesan baru.

Hanya sebuah percakapan lama yang tiba-tiba berada di paling atas.

Pesan yang ia yakin tidak pernah ada sebelumnya.

Tanggalnya tiga minggu lalu.

Isi pesannya:

Kalau kamu membaca ini, berarti jangan kirim pesan lagi.

Raka mengerutkan dahi.

Ia membuka detail pesan tersebut.

Nomor pengirimnya adalah nomor miliknya sendiri.

Waktu pengiriman:

02.21.

Tanggalnya adalah tepat satu hari sebelum ia pertama kali menerima pesan.

Raka membaca kalimat itu lagi.

Tidak ada pesan lain.

Tidak ada penjelasan.

Namun ia tahu apa artinya.

Pada salah satu iterasi sebelumnya, Raka masa depan pasti pernah mengirim pesan itu. Mungkin kepada Raka yang masih ketakutan. Mungkin kepada Raka yang belum mengenal Dimas sebagai satu-satunya orang yang bisa membuatnya berhenti menurut. Mungkin kepada versi dirinya yang masih percaya bahwa masa depan harus diperbaiki.

Tetapi pada iterasi yang sekarang, pesan itu tidak lagi dibutuhkan.

Karena Raka telah memilih berbeda.

Ia tidak pernah pergi ke stasiun.

Ia tidak pernah mengikuti perintah terakhir.

Ia tidak membalas pesan.

Ia tidak mencoba mengirim pesan kepada masa lalu.

Ia hanya berhenti.

Dan dengan berhenti, ia telah melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh dirinya dalam percobaan-percobaan sebelumnya.

Ia membiarkan hari berjalan tanpa campur tangan.

Raka memandang layar ponselnya sampai pantulan wajahnya sendiri terlihat samar di sana.

Untuk sesaat ia merasa seperti sedang menatap seseorang dari masa depan.

Kemudian ia menghapus percakapan itu.

Bukan karena takut.

Bukan karena ingin melupakan.

Melainkan karena untuk pertama kalinya, ia tidak membutuhkan bukti bahwa dirinya pernah diselamatkan.

Dari balik meja bar, Dimas memanggil, ‘Rak, pulang?’

Raka memasukkan ponsel ke saku.

‘Iya.’

Mereka mematikan lampu kedai dan mengunci pintu.

Di luar, jalanan masih basah oleh hujan yang turun entah sejak kapan. Mereka berjalan berdampingan tanpa terburu-buru, membiarkan suara langkah kaki mereka bercampur dengan suara kendaraan yang jauh.

Pukul 02.21 telah lewat.

Tidak ada pesan.

Dan tidak akan ada lagi.

Setidaknya, bukan untuk Raka yang hidup sekarang.

Di suatu tempat yang tidak lagi bisa mereka jangkau, sebuah versi Raka yang jauh lebih tua mungkin masih duduk di depan sebuah ponsel, menunggu waktu yang tidak pernah datang.

Mungkin ia sedang membaca catatan yang sama.

Mungkin ia sedang menyadari bahwa untuk pertama kalinya, tidak ada alasan baginya untuk mengirim pesan.

Atau mungkin, pada suatu malam bertahun-tahun yang lalu, ia sudah tahu bahwa satu-satunya cara menyelamatkan Raka adalah memastikan Raka suatu hari berhenti mendengarkannya.

Tak seorang pun akan pernah tahu.

Dan untuk pertama kalinya, Raka merasa tidak perlu tahu.

Karena ada masa depan yang tidak perlu diselamatkan.

Ada masa depan yang cukup dibiarkan terjadi.

You cannot decide your future; Your future is decided by your present

Share

Originally published on Medium.